AMALAN AHLI SYURGA DAN AMALAN AHLI NERAKA


AMALAN AHLI SURGA dan AMALAN AHLI NERAKA

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah pernah ditanya tentang amalan ahli surga dan amalan ahli neraka, apa saja…? Kemudian beliau menjawab sebagai berikut:

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam. Amalan ahli surga adalah beriman dan bertakwa. Sedangkan amalan ahli neraka adalah kufur, fasik, dan maksiat.

Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah SWT, Para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.

Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah SWT) dan Muhammad rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT), mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada Allah SWT seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.

Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau binatang.

Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas beribadah kepada Allah SWT, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya (banyak membelanjakan hartanya dijalan Alloh SWT seperti Zakat Infaq dan Bersedekah).

Di antara amalan ahli surga: Suka membaca Al-Qur’an (termasuk mengkajinya, memahaminya, dan terutama mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari), berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap kepada-Nya.

Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk), berjihad di jalan Allah SWT dalam memerangi orang kafir munafikin.

Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan amalan-amalan yan serupa.

Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah SWT menyediakan surga bagi orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah SWT menyukai orang-orang yang senantiasa berbuat baik.

Amalan Ahli Neraka

Sedangkan amalan ahli neraka adalah seperti berbuat syirik kepada Allah SWT, mendustakan para rasul, kufur dan hasud, berdusta, berhianat, berbuat dzalim, perbuatan keji lagi hina, ingkar janji, memutus silaturahim, takut untuk pergi berjihad, bakhil, tidak singkron antara dzahir dan batin, berputus asa dari rahmat Allah SWT, merasa aman dari adzab Allah, berkeluh kesah (tidak sabar) ketika tertimpa musibah, sombng dan tidak menyukuri nikmat, meninggalkan kewajiban terhadap Allah SWT, melanggar batasan-batasan-Nya, melanggar keharaman-keharaman, takut terhadap makhluk dan tidak takut terhadap khaliq, berharap kepada makhluk dan tidak kepada khaliq, bertawakkal kepada makhluk dan tidak kepada khaliq, beramal dengan riya dan sum’ah, menyalahi Al-Qur’an dan sunnah, taat kepada makhluk dan tidak kepada khaliq, fanatik kepada kabatilan, mencela ayat-ayat Allah, menentang kebenaran, menyembunyikan ilmu dan kesaksian yang sebenarnya harus disampaikannya.

Dan di antara amalan ahli neraka: Melakukan sihir (santet, pelet, dan sejenisnya), durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa yang Allah SWT haramkan tanpa jalan yang benar, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari peperangan, menuduh wanita baik-baik kagi mukminah telah berbuat zina.

Tidak mungkin merinci dua bagian ini, tapi secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sedangkan amalan ahli neraka semuanya masuk kategori maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah SWT. Barang siapa taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah SWT dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah SWT memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’: 13-14) wallahu a’lam bish showab…

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

BERSEMAYAMNYA A…


BERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS ‘ARSY

BERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS ‘ARSY

 

 

Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

 

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ….

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3) 

 

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu”. (Ar-Ra’d: 2)

 

 ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً  

“kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui” (Al-Furqan:59)

 

 ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“kemudian Dia-pun bersamayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)

 

 

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik..”.(Fathir:10)

 

 يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..”. (As-Sajadah:5)

 

 أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang”. (Al-Mulk:16)

 

Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang Fir’aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya):

 

 وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحاً لَّعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ – أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِباً

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta…” (Al-Mu’min:36-37)

 

Fir’aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit.

 

Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah ‘azza wa jalla’ berada diatas ‘arsy-Nya. Dan ‘arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya. 

 

Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas ‘Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan:

 

 آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

“Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”(Ali-’Imran:7).

 

Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

 

Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:

 

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  

“Ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arsynya”.(Thaha:5),

 

bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:” Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis. 

 

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)”. 4

 

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: “Siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu’ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa’i (rampasan perang) -tidak halal diwarisi oleh seorang pun dari muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

“Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim” (HR. Bukhari) 

 

Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita. Beliau bertanya:”dimanakah Allah?”, maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:”Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”.5

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah di atas langit.

                                                

Imam Az-Zuhri -imamnya para imam berkata: “Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya” 

 

Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja’ad bin Dirham: “Sungguh celaka engkau wahai Ja’ad karena masalah itu (karena Ja’ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!” 

 

Khalid bin Abdullah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya I’dul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: “Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian-semoga Allah memberkahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan meyembelih Ja’ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim ‘alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja’ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja’ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib.

4 Sanadnya Hasan

5 HR.Muslim dan lainnya

Kutipan | Posted on by | Tag , | 1 Komentar

AL-QUR’AN KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK


AL-QUR’AN KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK

[Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata:] “Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Siapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.

Al-Qur’an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ – نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ – عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ – بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy-Syu’ara: 192-195)

Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu”. (Al-Maidah:67),

dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku” 1

Al-Qur’an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Al-qur’an dibaca oleh qari’, dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: “Al-Qur’an adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya. 2

Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz Al-Qur’an, maka Beliau berkata: “Tidak pantas untuk diperdebatkan. ‘Al-Qur’an kalamullah-bukan makhluk “.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur’an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:

فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ

“maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah’ (At-Taubah:6).

Dari mana ia mendengar? 3

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Siapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur’an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur’an. Siapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur’an maka ia kafir”

1 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:” Adakah seseorang yang mau membawaku ke kaumnya?.

Sesungguhnya orang-orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku” (HR.

Bukhari dalam Af’alul ‘ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah)

2 Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz

3 Sanadnya shahih

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag | Tinggalkan komentar

Menggapai Kehidupan Bahagia


Menggapai Kehidupan Bahagia

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Semoga shalawat dan salam tetap atas beliau, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di buletin | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ukhuwah Islamiyah


Ukhuwah Islamiyah

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini, beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Baca lebih lanjut

Dipublikasi di buletin | Tinggalkan komentar

Hikmah kurban


Hikmah kurban

Makna taqwa kepada Allah SWT dalam arti yang sebenarnya, adalah melaksanakan semua perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kita menyadari, bahwa iman dan takwa adalah sumber kebahagiaan lahir batin, dunia dan akhirat. Satu diantara perbuatan taqwa ialah mensyukuri karunia Allah SWT yang tak terhingga, yaitu nikmat umur. Dengan nikmat umur jualah, maka kita dapat merayakan hari yang sangat berbahagia yaitu hari raya Idul Adha.

Setiap datangnya hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha, umat Islam selalu menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Kegembiraan dan rasa syukur ini tidaklah ditandai dengan tarian dan musik, nyanyi atau pesta pora, melainkan dengan mengagungkan serta memuliakan Asma Allah Yang Maha Besar dengan kumandang takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid.

Dengan mengumandangkan takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah makhluk yang kecil di hadapan kebesaran Allah SWT  Sang Pencipta Alam Semesta. Juga kita menyadari bahwa kita hanyalah sebagai makhluk yang dha’if dan hina di hadapan Allah SWT; Dzat Yang Maha Mulia, Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.

Sebagai makhluk yang dha’if, makhluk yang hina di hadapan Allah SWT, kita hanya dapat berharap dan memohon kasih saying-Nya, semoga perjalanan hidup kita di dunia ini hingga akhirat kelak mendapat keselamatan dan kebahagiaan, bahkan kita pun berharap agar kiranya Allah SWT menjauhkan kita dari azab/siksa-Nya yang amat pedih, sebagaimana yang tertera dalam doa yang sangat popular dengan istilah “Doa Sapu Jagad”, yaitu yang artinya: “Ya Allah, berilah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak serta hindarkanlah kami dari siksa-Mu yang amat pedih”.

Kemarin, tepatnya tanggal 9 Dzulhijah 1430 H bertepatan 26 Nopember 2009, berjuta-juta kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji berada di padang Arafa. Mereka datang dari berbagai negara yang berlainan bahasa dan warna kulitnya, tetapi mereka berpakaian yang sama dan tujuannya sama pula, yakni hanya untuk memenuhi panggilan Allah SWT, yaitu menunaikan ibadah haji dan umroh sebagaimana tercantum dalam firman-Nya dalam alqur’an:

واذ ن فى الناس با لحج يأ توك رجا لا وعلى كل ضا مر يأ تين من كل فج عميق .

Artinya : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS: Al-Hajj: 27)

Di bawah terpaan terik matahari yang menyengat, berjuta-juta manusia dari berbagai bangsa yang berbeda bahasa, warna kulit, kebudayaan maupun pola berpikirnya, mereka berkumpul seolah-olah sedang mengadakan suatu apel besar, tak ada perbedaan antara raja dan rakyatnya, tak ada perbedaan antara kaya dan miskin dan tak ada pula perbedaan antara satu kaum dengan kaum yang lainnya. Mereka itu sama-sama menjadi tamu Allah SWT yang sedang bertaqarrub dan sedang mengkui kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT. Keadaan semacam inilah yang menggambarkan hari berkumpulnya segenap manusia di padang masyar kelak guna mepertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Hari raya Idul Adha disebut juga sebagai Hari Raya Qurban, karena pada hari raya ini dan tiga hari sesudahnya umat Islam disunahkan untuk menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin. Dalam Islam diceritakan mengenai kurban, kita teringat akan sejarahnya di mana dua orang kekasih Allah SWT, yaitu Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s telah dapat menyelasaikan dengan baik perintah Allah SWT yang sangat berat. Nabi Ibrahim a.s diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya dengan tangannya sendiri. Nabi Ibrahim a.s telah siap melaksanakan perintah penyembelihan setelah mendapat kata sepakat dari Ismail a.s. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman yang artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Nabi Ibrahim a.s, maka dia berkata: Hai anakku ! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kapadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat : 102).

Allah SWT Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia yang tersimpan didalam hati kedua insan kekasih-Nya itu, telah menggantikan keikhlasan hati mereka dengan seekor domba yang besar. Peristiwa inilah yang akhirnya menjadi syariat Islam, yang amat menganjurkan kepada umatnya untuk mengorbankan sebagian harta yang disayanginya berupa hewan kurban yang dagingnya dibagi-bagikan kepada para fuqara dan masaakin. Anjuran menyembelih kurban ini telah ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” {QS. Al-Kautsar: 1-2). Dalam hal ini Rasulullah SAW juga menekankan dalam sabdanya:

من كا ن له سعة ولم يضح فلا يقر بن مصلا نا .

Artinya : “Barang siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk berkurban, tetapi tidak mau berkurban, maka jangan dekat-dekat tempat shalat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Keteguhan Nabi Ibrahim a.s dalam melaksanakan perintah Allah SWT menjadi cermin bagi kita bersama, betapa beliau telah sanggup dan rela berkurban apa saja demi mendapatkan ridha Allah SWT. Begitu pula Nabi Ismail a.s patutlah kita warisi sebagaimana telah pula diwarisi oleh para pejuang tanah air kita pada masa lalu, dimana mereka telah rela mengorbankan harta benda, jiwa dan raga demi menegakan keadilan dan kebenaran di persada nusantara ini.

Mereka merelakan semua miliknya demi cita-cita kemerdekaan negara dan bangsa, sampai pun nyawa melayang dan mereka ini terbujur diatas pusara sebagai kusuma bangsa, sebagai syuhada yang telah melukiskan sejarah patriotis dan herois bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Alhamdu lillah atas berkat rahmat Allah SWT juga serta karena keikhlasan para syuhada itulah kini bangsa Indonesia sudah dapat menikmati hasil perjuangan mereka.

Betapa indahnya apabila para pemuda dan remaja masa kini, terutama para pemuda dan remaja Islam mau meneladani keteguhan dan kerelaan Nabi Ismail a.s sehingga mereka dapat berperan sebagai generasi penerus yang benar-benar mampu melaksakan tugas-tugas yang diamanatkan oleh bangsa dan Negara. Sebab ditangan merekalah terletak urusan bangsanya, sebagaimana telah dikatakan oleh pujangga Islam, Musthofa Ghulayaini yang artinya : “Ditangan pemudalah (urusan) bangsa dan pada jejak langkah merekalah hari depan masyarakatnya” (Musthofa Ghulayaini). Oleh karena itulah mulai sekarang hendaknya para pemuda dan remaja memegangi semboyan:  “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan: Inilah bapakku, tetapi seorang pemuda adalah yang menyatakan: Inilah dadaku”.

Dengan demikian jelaslah, betapa besar peranan generasi muda dalam meneruskan, merampungkan serta mempertahankan warisan para pendahulu dan para pejuang kita yang telah tiada. Maka kita harus dapat mengambil pelajaran, yaitu bahwasanya hikmah yang tersirat dalam hari Raya Idul Adha/Hari Raya Qurban ialah acuan semangat bagi generasi muda untuk siap menjadi insan yang teguh, tegar, berani berkurban dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan, rintangan dan halangan dalam kehidupan sehari-hari demi kebenaran dan keberhasilan cita-cita. Pribadi-pribadi remaja semacam itulah yang sangat dinantikan oleh agama kita, yakni Islam dan juga diharapkan kehadirannya oleh bangsa dan Negara bagi kelangsungan pembangunan nasional menuju masyarakat adil makmur, bahagia sejahtera lahir dan batin.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi tua lebih membuktikan sikap luwes dan terbuka, yakni dengan lebih banyak memberikan arahan, didikan serta tuntunan kepada anak-anak kita, agar kelak mereka benar-benar mampu berperan sebagai generasi pengganti yang lebih baik, lebih sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kita tanamkan kepada mereka semangat juang dan pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan tanah air serta binalah mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang siap menerima tongkat estafet generasi.

By H. Moh Syaikhudzikri

Dipublikasi di buletin | Tag , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Waktu


W A K T U

Modal Setiap Manusia di dunia ini adalah waktu yang singkat, nafas yang terbatas dan hari-hari yang berbilang. Maka barangsiapa yang menggunakan kesempatan dan saat-saat itu dalam kebaikan dan selalu beribadah maka beruntunglah dia. Akan tetapi sebaliknya siapa saja yang menyia-nyiakan semua itu maka ia telah merugi dan waktu pun tak akan bisa kembali seperti semula. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di buletin | Tag , , , , , , , , | Tinggalkan komentar