PELAJARAN PERISTIWA MASA LAMPAU


PELAJARAN PERISTIWA MASA LAMPAU

I. Pendahuluan.

Dalam era globalisasi dan informasi seperti sekarang ini, sering muncul peristiwa peristiwa-peristiwa yang terjadi didalam social kemasyarakatan. Keanekaragaman peristiwa yang terjadi tersebut cukup pelik untuk dicari solusi pemecahannya, sehingga banyak pihak  menjadi bingung karenanya. Misalnya kenakalan remaja, tindak kriminalitas (pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan lain-lain), kecelakaan, dan musibah/bencana (tsunami, banjir, gempa, longsor, dan sebagainya).Tentunya harus ada usaha dan upaya baik dari kalangan pemerintah maupun swasta serta masyarakat untuk bersama-sama mengantisipasi ragamnya peristiwa yang terjadi tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, antara lain menerjunkan aparat keamanan dan terlebih lagi adanya gerakan “Pesantren Kilat” (salah satu metode untuk mengatisipasi merebaknya kenakalan remaja, seperti tawuran antar anak sekolah, bahkan tawuran antar daerah atau kelompok).

Tak kalah pentingnya juga merupakan salah satu metode yang cukup efektif untuk mengantisipasi problematika tersebut diatas ialah dengan cara “Mempelajari Peristiwa Masa Lampau” yang dapat diberikan oleh para ahli agama, misalnya pemberian bimbingan dan penyuluhan, yakni dengan mengambil nilai-nilai atau norma-norma yang terkandung dalam peristiwa masa lampau tersebut. Metode yang demikian sesuai dengan metode yang digunakan oleh aliran Perenialisme dalam dunia filsafat dimana aliran tersebut selalu melihat masa lampau dalam memecahkan segala problematika yang terjadi.

II. Ingat Akan Perubahan Waktu.

Satu hal yang menyebabkan kerugian besar dalam hidup ini adalah lupa akan perubahan waktu dan pergeseran masa. Betapa besar nilai waktu dalam kehidupan kita ini. Tidak sedikit orang mempunyai rencana dan keinginan, tapi sering gagal terbentur oleh persoalan waktu, sehingga sering dikatakan lebih berharga dari pada emas dan uang. Waktu bagaikan “pedang” yang terhunus, jika tidak kita manfaatkan dengan baik, kita akan bisa terpotong, merugi atau celaka. Oleh karenanya Rasulullah saw pernah mengingatkan kita dengan sabdanya :

اغتنم خمسا قبل خمس شبا بك قبل هر مك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل فقرك وفرا غك قبل

شغلك وحيا تك قبل مو تك (رواه البيهقي وابن ماجه)

Artinya :”Gunakanlah lima (kesempatan) sebelum lima, yaitu: masa mudamu sebelum kedatangan masa tua, masa sehatmu sebelum kedatangan masa sakit, masa kayamu sebelum kedatangan masa miskin, masa senggangmu sebelum kedatangan masa kesibukan dan masa hidupmu sebelum kedatangan kematian”(HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah).

Betapa indahnya masa muda, ibarat bunga yang sedang mekar menawan dan mempesonakan setiap insan yang memandangnya. Disaat tubuh masih tegap, tulang dan sendi masih kuat, mata masih tajam, langkah masih bisa terayun panjang kita masih bisa berbuat banyak dengan masa muda sebelum kedatangan masa tua yang membelenggu kita, dimana tubuh mulai melemah,mata mulai kabur dan langkah mulai tertatih-tatih takkan banyak hal yang dapat dikerjakan. Oleh karena itu sebagai generasi muda yang menjadi tumpuan harapan bangsa harus pandai dalam mempergunakan dan menghabiskan masa mudanya seoptimal mungkin.

Demikian halnya masa sehat yang senantiasa didambakan setiap insan. Dengan kesehatannya manusia dapat melaksanakan apa yang ingin dilaksanakan. Lain halnya jika datang sakit, dunia seolah-olah menjadi suram, hidup ini tidak memiliki gairah lagi. Dunianya tinggal sebatas tembok persegi empat yang membatasi kamarnya.

Begitu pula kekayaan merupakan kesempatan untuk dapat digunakan berbuat kebaikan yang lebih banyak, menabur amal dan menanam infak. Jangan biarkan kekayaan itu punah percuma yang menyebabkan penyeswalan diri yang berkepanjangan akibat kemiskinan. Orang yang dianugrahi oleh Allah SWT kekayaan yang berlimpah ruah dan kenikmatan yang banyak, hendaklah ia memanfaatkannya dijalan Allah, patuh dan taat kepada perintah-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya untuk memperoleh ridho-Nya.

Demikian pula masa senggang jangan dibiarkan berlalu tanpa makna. Memang orang sering lupa akan arti pentingnya masa senggang yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu:

نعمتان مغبون فيهما كثيرمن الناس: ألصحة والفراغ

Artinya: “Dua kenikamtan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan masa senggang”.

Tak kalah pentingnya dengan empat masalah diatas ialah masa hidup kita. Dalam hidup ini kita bisa berbuat banyak untuk kepentingan dunia maupun akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Yang artinya bahwa: “Dunia adalah ladang untuk tanaman akhirat”. Dengan hidup ini pula kita diberi hak untuk mengeksploitir dan memiliki serta memanfaatkan dunia dengan segala isinya.

Oleh karena itu dengan menyadari bahwa waktu itu ada dan terus bergulir semakin jauh meninggalkan hari, bulan dan tahun yang berlalu tanpa kembali lagi akan bisa melahirkan kesadaran kita tentang arti hidup ini dengan amal, aktifitas dan karya yang bermanfaat bagi diri kita dan masyarakat, tanpa menunda-nunda kesempatan yang sekarang kita miliki.

III. Pelajari Peristiwa-peristiwa Umat Terdahulu.

Kesadaran akan adanya waktu berarti mengetahui akan sejarah dan peristiwa-peristiwa yang terdahulu disamping peristiwa-peristiwa yang sekarang dan yang akan datang.

Kita disuruh membaca sejarah dari umat-umat yang terdahulu. Sejarah orang-orang yang baik dengan kemenangan dan kejayaan sekalipun kemenangan dan kejayaan itu diperoleh dengan tetesan darah dan cucuran keringat. Demikian pula kita disuruh menyimak sejarah orang-orang jahat dan durhaka dengan segala akibat dan kehancurannya. Betapa corak kehidupan ini datang silih berganti antara kejayaan dan kehancuran dan antara kemenangan dan kekalahan.

Kita disuruh mengingat-ingat dengan sungguh hal itu. Memperbaharui ingatan kita kepada undang-undang Ilahi yang senantiasa berjalan constant dari masa ke masa. Yang tetap berlaku sebagai “Sunnatullah” (natural of law) yang mengikat kehidupan dijagat raya ini.

Berapa banyak umat yang pernah jaya yang sekarang ini tinggal puing-puing peninggalannya atau mungkin tinggal namanya yang disebut-sebut dalam buku sejarah saja. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Naml: 69 yang artinya: “Katakanlah, hendaklah kamuberjalan di muka bumi ini kemudian perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang berdosa itu”.

Salah satu kisah umat terdahulu ialah kisah “Qarun” yang diceritakan dalam surat Al-Qashash ayat 76-81. Dalam ayat-ayat tersebut terdapat peringatan yang keras bagi kita. Banyak diantara orang memamerkan nikmatnya hanyalah untuk menyombongkan dan membanggakan diri, dan tak jarang diantara orang yang mengadakan pesta perkawinan atau pertemuan-pertemuan, maksudnya hanyalah memamerkan kekayaan yang berlimpah dihadapan kaum kerabatnya, sehingga ia telah menjadi “Qarun” di masanya yang akibatnya diri dan hartanya habis ditelan bumi. Allah SWT melenyapkan seluruh kekayaannya, dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran.

Al-Qur’an menyajikan kisah ini kepada kita, tak lain dalam rangka memperlihatkan bahwa hukuman atas kesombongan dan membanggakan diri tidak hanya akan terjadi di akhirat saja, tetapi juga didunia sebagai mana banyak terjadi terhadap kaum muslimin dewasa ini.

Dalam era globalisasi sekarang ini, baik di desa terlebih dikota-kota besar, tak jarang diantara orang-orangnya yang mewarisi sifat dan sikap “Qarun”, yakni memamerkan kekayaannya, menyombongkan diri dan berbuat aniaya agar terkenal dan dihormati orang lain. Mereka tidak menyadari dibelakang mereka telah menanti siksaan api neraka yang amat pedih sebagai balasan atas kesombongan, kedurhakaan dan kezhalimannya  di dunia yang hanya sementara. Mereka juga tidak menyadari bahwa harta benda hanyalah titipan Allah SWT dan harus digunakan dijalan-Nya karena harta benda tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab api neraka.

Banyak sekali pada saat ini terjadi peristiwa-peristiwa yang menimpa masyarakat bukan hanya memakan korban jiwa, bangunan-bangunan hancur dan semisalnya. Misalnya tsunami, gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, pesawat jatuh, kapal tenggelam, tanggul jebol, dan masih banyak kejadian-kejadian aneh lainnya, seperti “AIDS” suatu jenis penyakit yang saat ini menjadi momok bagi seluruh dunia karena sangat berbahaya  dan sulit sekali dicari penawarnya. Itu semua terjadi adalah akibat ulah mereka sendiri padahal banyak sekali contoh-contoh dari peristiwa umat terdahulu yang dapat dijadikan I’tibar dan pelajaran, tetapi mereka masih melanggarnya.

Itulah salah satu sejarah yang tidak boleh hanya sekedar kita baca atau kita dongengkan, tetapi harus kita jadikan pelajaran dalam hidup ini. Rasulullah saw pernah bersabda dalam satu hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dari Abi Hurairah r.a. :

لايلدغ المؤمن من حجرواحدمرتين

Artinya :”Orang mukmin jangan digigit dua kali dari satu lobang”.

Kita tidak hidup dalam masa sekarang saja. Kita tidak boleh hidup hanya melihat apa yang kelihatan dan kedengeran pada saat kita ada saja, melainkan kita harus merasakan bahwa hidup kita ini dalam rangkaian masa yang panjang baik kedepan maupun kebelakang. Kita tidak boleh hidup ibarat rama-rama yang hidup untuk sehari, tapi dalam hidup itu kita harus merasakan bahwa hidup kita ini merupakan satu mata rantai yang panjang sehingga yang kita kerjakan pada saat sekarang walau sekecil apapun akian memiliki dampak yang nyata untuk hari esok. Hal demikian telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam surat Al-Zilzalah ayat 7-8 yang artinya :”Maka (bagi) siapa yang mengerjakan suatu kebajikan sekalipun sebesar biji dzarrah pasti akan diperlihatkan. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sekalipun hanya sebesar dzarrah pasti akan diperlihatkan pula”.

IV. Kesimpulan.

Merupakan suatu anugerah atau nikmat yang amat besar, yaitu pemberian kehidupan dan kesempatan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang dilengkapi dengan rasio sehingga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan alam yang melimpah agar dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, dan kesehatan yang harus digunakan dalam aktifitas yang positif.

Anugerah atau nikmat tersebut harus disyukuri oleh siapa saja yang menerimanya. Syukur tersebut dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian hamba terhadap Khalik (Allah SWT), yaitu dengan lisan (ucapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah), kemudian anggota badan dalam bentuk amal perbuatan, yakni melaksanakan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya serta memperoleh ridha dari-Nya demi kejayaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bentuk amaliah kongkrit kita yang paling utama sebagai tanda syukur nikmat kepada Allah SWT antara lain adalah melaksanakan shalat lima waktu semata-mata karena-Nya dalam kondisi apapun.

Cikeas, 20 April 2009

H. Moh Syaikhudzikri, S.Ag

Pos ini dipublikasikan di buletin dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s