Hikmah kurban


Hikmah kurban

Makna taqwa kepada Allah SWT dalam arti yang sebenarnya, adalah melaksanakan semua perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kita menyadari, bahwa iman dan takwa adalah sumber kebahagiaan lahir batin, dunia dan akhirat. Satu diantara perbuatan taqwa ialah mensyukuri karunia Allah SWT yang tak terhingga, yaitu nikmat umur. Dengan nikmat umur jualah, maka kita dapat merayakan hari yang sangat berbahagia yaitu hari raya Idul Adha.

Setiap datangnya hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha, umat Islam selalu menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Kegembiraan dan rasa syukur ini tidaklah ditandai dengan tarian dan musik, nyanyi atau pesta pora, melainkan dengan mengagungkan serta memuliakan Asma Allah Yang Maha Besar dengan kumandang takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid.

Dengan mengumandangkan takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid, maka kita menyadari sepenuhnya bahwa manusia adalah makhluk yang kecil di hadapan kebesaran Allah SWT  Sang Pencipta Alam Semesta. Juga kita menyadari bahwa kita hanyalah sebagai makhluk yang dha’if dan hina di hadapan Allah SWT; Dzat Yang Maha Mulia, Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.

Sebagai makhluk yang dha’if, makhluk yang hina di hadapan Allah SWT, kita hanya dapat berharap dan memohon kasih saying-Nya, semoga perjalanan hidup kita di dunia ini hingga akhirat kelak mendapat keselamatan dan kebahagiaan, bahkan kita pun berharap agar kiranya Allah SWT menjauhkan kita dari azab/siksa-Nya yang amat pedih, sebagaimana yang tertera dalam doa yang sangat popular dengan istilah “Doa Sapu Jagad”, yaitu yang artinya: “Ya Allah, berilah kepada kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak serta hindarkanlah kami dari siksa-Mu yang amat pedih”.

Kemarin, tepatnya tanggal 9 Dzulhijah 1430 H bertepatan 26 Nopember 2009, berjuta-juta kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji berada di padang Arafa. Mereka datang dari berbagai negara yang berlainan bahasa dan warna kulitnya, tetapi mereka berpakaian yang sama dan tujuannya sama pula, yakni hanya untuk memenuhi panggilan Allah SWT, yaitu menunaikan ibadah haji dan umroh sebagaimana tercantum dalam firman-Nya dalam alqur’an:

واذ ن فى الناس با لحج يأ توك رجا لا وعلى كل ضا مر يأ تين من كل فج عميق .

Artinya : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (QS: Al-Hajj: 27)

Di bawah terpaan terik matahari yang menyengat, berjuta-juta manusia dari berbagai bangsa yang berbeda bahasa, warna kulit, kebudayaan maupun pola berpikirnya, mereka berkumpul seolah-olah sedang mengadakan suatu apel besar, tak ada perbedaan antara raja dan rakyatnya, tak ada perbedaan antara kaya dan miskin dan tak ada pula perbedaan antara satu kaum dengan kaum yang lainnya. Mereka itu sama-sama menjadi tamu Allah SWT yang sedang bertaqarrub dan sedang mengkui kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT. Keadaan semacam inilah yang menggambarkan hari berkumpulnya segenap manusia di padang masyar kelak guna mepertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

Hari raya Idul Adha disebut juga sebagai Hari Raya Qurban, karena pada hari raya ini dan tiga hari sesudahnya umat Islam disunahkan untuk menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin. Dalam Islam diceritakan mengenai kurban, kita teringat akan sejarahnya di mana dua orang kekasih Allah SWT, yaitu Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s telah dapat menyelasaikan dengan baik perintah Allah SWT yang sangat berat. Nabi Ibrahim a.s diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya dengan tangannya sendiri. Nabi Ibrahim a.s telah siap melaksanakan perintah penyembelihan setelah mendapat kata sepakat dari Ismail a.s. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman yang artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Nabi Ibrahim a.s, maka dia berkata: Hai anakku ! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kapadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat : 102).

Allah SWT Yang Maha Mengetahui akan segala rahasia yang tersimpan didalam hati kedua insan kekasih-Nya itu, telah menggantikan keikhlasan hati mereka dengan seekor domba yang besar. Peristiwa inilah yang akhirnya menjadi syariat Islam, yang amat menganjurkan kepada umatnya untuk mengorbankan sebagian harta yang disayanginya berupa hewan kurban yang dagingnya dibagi-bagikan kepada para fuqara dan masaakin. Anjuran menyembelih kurban ini telah ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” {QS. Al-Kautsar: 1-2). Dalam hal ini Rasulullah SAW juga menekankan dalam sabdanya:

من كا ن له سعة ولم يضح فلا يقر بن مصلا نا .

Artinya : “Barang siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk berkurban, tetapi tidak mau berkurban, maka jangan dekat-dekat tempat shalat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Keteguhan Nabi Ibrahim a.s dalam melaksanakan perintah Allah SWT menjadi cermin bagi kita bersama, betapa beliau telah sanggup dan rela berkurban apa saja demi mendapatkan ridha Allah SWT. Begitu pula Nabi Ismail a.s patutlah kita warisi sebagaimana telah pula diwarisi oleh para pejuang tanah air kita pada masa lalu, dimana mereka telah rela mengorbankan harta benda, jiwa dan raga demi menegakan keadilan dan kebenaran di persada nusantara ini.

Mereka merelakan semua miliknya demi cita-cita kemerdekaan negara dan bangsa, sampai pun nyawa melayang dan mereka ini terbujur diatas pusara sebagai kusuma bangsa, sebagai syuhada yang telah melukiskan sejarah patriotis dan herois bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Alhamdu lillah atas berkat rahmat Allah SWT juga serta karena keikhlasan para syuhada itulah kini bangsa Indonesia sudah dapat menikmati hasil perjuangan mereka.

Betapa indahnya apabila para pemuda dan remaja masa kini, terutama para pemuda dan remaja Islam mau meneladani keteguhan dan kerelaan Nabi Ismail a.s sehingga mereka dapat berperan sebagai generasi penerus yang benar-benar mampu melaksakan tugas-tugas yang diamanatkan oleh bangsa dan Negara. Sebab ditangan merekalah terletak urusan bangsanya, sebagaimana telah dikatakan oleh pujangga Islam, Musthofa Ghulayaini yang artinya : “Ditangan pemudalah (urusan) bangsa dan pada jejak langkah merekalah hari depan masyarakatnya” (Musthofa Ghulayaini). Oleh karena itulah mulai sekarang hendaknya para pemuda dan remaja memegangi semboyan:  “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan: Inilah bapakku, tetapi seorang pemuda adalah yang menyatakan: Inilah dadaku”.

Dengan demikian jelaslah, betapa besar peranan generasi muda dalam meneruskan, merampungkan serta mempertahankan warisan para pendahulu dan para pejuang kita yang telah tiada. Maka kita harus dapat mengambil pelajaran, yaitu bahwasanya hikmah yang tersirat dalam hari Raya Idul Adha/Hari Raya Qurban ialah acuan semangat bagi generasi muda untuk siap menjadi insan yang teguh, tegar, berani berkurban dan pantang mundur dalam menghadapi tantangan, rintangan dan halangan dalam kehidupan sehari-hari demi kebenaran dan keberhasilan cita-cita. Pribadi-pribadi remaja semacam itulah yang sangat dinantikan oleh agama kita, yakni Islam dan juga diharapkan kehadirannya oleh bangsa dan Negara bagi kelangsungan pembangunan nasional menuju masyarakat adil makmur, bahagia sejahtera lahir dan batin.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi tua lebih membuktikan sikap luwes dan terbuka, yakni dengan lebih banyak memberikan arahan, didikan serta tuntunan kepada anak-anak kita, agar kelak mereka benar-benar mampu berperan sebagai generasi pengganti yang lebih baik, lebih sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kita tanamkan kepada mereka semangat juang dan pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan tanah air serta binalah mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang siap menerima tongkat estafet generasi.

By H. Moh Syaikhudzikri

Pos ini dipublikasikan di buletin dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s